Uji Klinik Pertama Vaksin China Gagal Menyembuhkan Pasien Covid-19

 
Ilmuwan Dunia Coba kembangkan vaksin virus corona atau covid-19. Foto AP

Uji coba yang dilakukan China menunjukkan obat tak berhasil sembuhkan pasien Covid-19

KALTIM AMPUNKU.com — Uji coba pertama terhadap remdesivir, obat anti-virus yang dinilai potensial untuk mengobati infeksi virus corona jenis baru (Covid-19) dilaporkan gagal. Sebelumnya, jenis obat ini diyakini efektif untuk mengatasi penyakit yang menjadi pandemi global saat ini.

Dilansir BBC, Kamis (23/4), uji coba yang dilakukan oleh China menunjukkan obat itu tidak berhasil menyembuhkan pasien Covid-19. Hal ini juga dilaporkan dalam dokumen yang sempat dirilis oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

Remdesivir dikatakan tidak memperbaiki kondisi pasien Covid-19. Bahkan, obat ini dalam uji coba pertamanya menunjukkan ketidaksuksesan untuk mengurangi patogen virus dalam aliran darah.

Atas hal ini, Gilead, perusahaan asal Amerika Serikat (AS) yang membuat remdesivir mengatakan bahwa dokumen WHO tersebut salah menafsirkan studi yang dilakukan. Kegagalan uji coba menyebar setelah organisasi mengunggah rincian tentang database uji klinis.

“Kami percaya unggahan itu memasukkan karakterisasi studi yang tidak sesuai,. Dengan demikian, hasil penelitian tidak dapat disimpulkan, meskipun tren dalam data menunjukkan manfaat potensial untuk remdesivir, terutama di antara pasien yang diobati pada awal penyakit,” ujar juru bicara Gilead.

Namun, WHO kini telah menghapus unggahan mengenai kegagalan uji klinis. Dalam studi yang dilakukan terkait efektivitas remdesivir, para  peneliti mempelajari 237 pasien, memberikan obat ini ke 158 orang dan membandingkan kondisi mereka dengan 79 lainnya, yang menerima pengobatan dengan plasebo.

Setelah satu bulan, sebanyak 13,9 persen dari pasien yang menggunakan remdesivir meninggal, dibandingkan dengan 12,8 persen dari yang menerima plasebo. Percobaan obat ini kemudian dihentikan lebih awal karena efek samping dilaporkan.

“Remdesivir tidak dikaitkan dengan manfaat klinis atau virologi,” tulis ringkasan studi.

Namun, ini tidak berarti akhir dari potensi remdesivir untuk mengobati Covid-19. Beberapa uji coba yang berkelanjutan akan dilakukan dan diharapkan memberikan gambaran lebih jelas tentang penggunaan obat.

Sebelumnya, Pemerintah China telah menyetujui tahap awal uji coba klinis untuk dua vaksin eksperimental virus Corona (COVID-19). Dengan kata lain, dua vaksin eksperimental ini akan diuji coba kepada manusia.

Seperti dilaporkan kantor berita Xinhua News Agency dan dilansir Reuters, Selasa (14/4/2020), persetujuan dari pemerintah China ini dilaporkan oleh mekanisme gabungan untuk pencegahan dan pengendalian virus Corona pada Dewan Negara China.

Dua vaksin eksperimental yang mendapat persetujuan untuk memasuki tahap awal uji coba klinis ini dikembangkan oleh Sinovac Biotech yang berbasis di Beijing dan oleh Institut Produk Biologis Wuhan — afiliasi Grup Farmasi Nasional China milik negara (Sinopharm).

Tidak dijelaskan lebih lanjut soal proses uji coba klinis itu. Laporan Xinhua News Agency hanya menyebutkan bahwa uji coba klinis terhadap dua vaksin eksperimental itu telah dimulai.

Diketahui bahwa pada Maret lalu, pemerintah China juga memberikan lampu hijau untuk uji coba klinis terhadap vaksin eksperimental virus Corona yang dikembangkan oleh Akademi Sains Medis Militer China — yang masih berafiliasi dengan Tentara Pembebasan Rakyat (PLA) dan oleh perusahaan bioteknologi asal Hong Kong, Cansino Biologics.

Saat itu disebutkan bahwa informasi detail soal uji coba yang dilakukan China, yang tercantum dalam database registrasi uji coba klinis, menunjukkan bahwa uji coba ‘Fase 1’ memeriksa apakah suntikan vaksin eksperimental ini aman pada manusia. Uji coba melibatkan 108 orang yang sehat dan akan berlangsung antara 16 Maret hingga 31 Desember mendatang.

Sebelum China mengumumkan uji coba pada Maret lalu, para peneliti di Amerika Serikat (AS) juga dilaporkan telah memulai uji coba klinis terhadap vaksin virus Corona yang dikembangkan oleh Institut Penyakit Menular dan Alergi Nasional bersama perusahaan bioteknologi AS, Moderna. Uji coba dilakukan pada 45 relawan dewasa selama 6 pekan.

 

D. Syarifah Mahadewi/*dari berbagai sumber

Editor : Adella Azizah

”The ”The ”The ”The

Tinggalkan Balasan