Makanan rakyat miskin di masa krisis. ­Menjadi petaka ketika mengeluarkan racun.

Oleh Andri Setiawan

Jika pernah membaca novel Ronggeng Dukuh Paruk karya Ahmad Tohari atau menonton film adaptasinya Sang Penari, tempe bongkrek barangkali sudah tak asing lagi. Makanan inilah yang menyebabkan orang-orang Dukuh Paruk beserta ronggengnya keracunan hingga meninggal. Kejadian itu juga mengawali kisah Srintil, anak pembuat tempe bongkrek, yang menjadi ronggeng di kemudian hari.

Tempe bongkrek merupakan makanan yang populer di tempat asalnya, Banyumas, Jawa Tengah. Tak seperti tempe biasa, tempe bongkrek terbuat dari campuran kedelai dan ampas atau bungkil kelapa yang kemudian difermentasi. Karena murah, tempe bongkrek menjadi salah satu makanan yang digemari masyarakat.

Namun dalam sejarahnya, seperti pada novel Ahmad Tohari, tempe bongkrek pernah menyebabkan keracunan dan kematian massal secara berkala. Wabah keracunan tempe bongkrek pertama kali dicatat oleh otoritas Belanda pada 1895. Kemudian pada 1902, ilmuan Belanda, Adolf G. Vorderman, juga telah menggambarkan beberapa jenis tempe bongkrek. Ia mencatat pula bahwa tempe bongkrek menyebabkan keracunan makanan yang fatal.

Keracunan massal yang lebih jelas perkaranya kemudian tercatat pada 1931 hingga 1937. Ketika itu Hindia Belanda dilanda depresi ekonomi. Penduduk desa kemudian membuat tempe bongkrek sendiri daripada membeli dari pembuat tempe berpengalaman. Hal ini menyebabkan banyak orang keracunan. Per tahun, tempe bongkrek beracun menyebabkan 10–12 orang meninggal.

“Hanya sedikit yang selamat. Penduduk desa setempat percaya bahwa keracunan itu disebabkan oleh roh jahat atau oleh Dewi Samudera Hindia yang sedang marah!” sebut William Shurtleff dan Akiki Aoyagi dalam History of Tempeh, a Fermented Soyfood From Indonesia.

Sejak awal 1930-an, W.K. Mertens dan A.G. van Veen dari Eijkman Institute di Batavia telah menyelidiki penyebab keracunan tempe bongkrek. Pada 1933, mereka menemukan bahwa penyebab munculnya racun pada tempe bongkrek adalah bakteri Pseudomonas cocovenenans. Bakteri inilah yang menghasilkan asam bongkrek dan toksoflavin.

“Permulaan penyakit terjadi dalam beberapa jam setelah konsumsi makanan yang terkontaminasi dan kematian dapat terjadi hanya dalam waktu 20 jam,” tulis J. David Owens dalam Indigenous Fermented Foods of Southeast Asia.

Menurut Arbianto Purwo dalam “Bongkrek food poisoning in Java” seperti dilansir Shurtleff dan Aoyagi dalam History of Tempeh and Tempeh Productdari 1951 hingga 1975, sebanyak 7.216 orang keracunan tempe bongkrek. Dari jumlah tersebut, 850 orang di antaranya meninggal dunia. Hal ini menunjukan 11,8% dari mereka yang keracunan berakhir meninggal atau rata-rata 34 orang meninggal dalam setahun.

Sementara itu, pada 1975 tampaknya menjadi tahun terburuk kasus keracunan tempe bongkrek. Sebanyak 1.036 orang keracunan dan 125 orang meregang nyawa. Kemudian pada 1977, meski jumlahnya menurun, lebih dari 400 orang keracunan dan lebih dari 70 korban meninggal.

Sebenarnya, pada 1958 telah diketahui bahwa daun asam dari spesies Oxalis yang tumbuh sebagai gulma di Banyumas, dapat mencegah toksisitas pada tempe bongkrek. Namun, penggunaan daun asam ini tidak diadopsi.

Pada 1962, pemerintah Indonesia telah melarang produksi tempe bongkrek. Namun, larangan ini tidak berhasil dan keracunan terus terjadi hingga 1980-an. Tercatat pada 1988, racun tempe bongkrek memakan korban 37 orang di Banyumas.*

Judul asli : Petaka Tempe Bongkrek/ historia

Editor : Desinta Syarifah

”The ”The ”The ”The ”The ”The

Tinggalkan Balasan