Durjana! Seorang Pria di Cirebon Perkosa Anak Yatim

Memilukan. Seorang anak yatim berusia lima tahun diduga dicabuli oleh tetangganya sendiri hingga mengalami luka parah di bagian sensitifnya.

Cirebon, Kaltimampunku.com– Sat Reskrim Polresta Cirebon menangkap AR (45) alias R yang mencabuli anak yatim di Kecamatan Ciwaringin, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat. Modus pria bekerja sebagai petani ini mengajak korban mencari bunga di sawah.

“Tersangka ini mengaku spontanitas. Tersangka melihat korban dan rekannya sedang bermain di salah satu rumah,” kata Kapolresta Cirebon Kombes Pol M Syahduddi di Mapolresta Cirebon, Jalan Raden Dewi Sartika, Jawa Barat, Sabtu (6/6/2020).

Menurut Syahduddi, tersangka langsung mengajak korban dan rekannya berkeliling menggunakan sepeda motor. Setelah itu, tersangka mengajak bocah perempuan berusia lima tahun itu ke area sawah di Kecamatan Ciwaringin untuk mencari bunga.

Kejadiannya di sawah. Kalau dari penuturan anak saya, ponakan pelaku disuruh cari bunga dan pegangin handphone. Sedangkan anak saya dicium, dipeluk, dan disuruh lepas celana. Kemudian bagian sensitifnya anak saya dimainin oleh pelaku pakai jari. Setelah itu kemaluan pelaku dipaksa masuk,” kata ibu korban yang berinisial SK (48). Korban lalu kemudian diantarkan pulang oleh pelaku. Malam itu, SK curiga dengan cara berjalan anaknya yang terlihat aneh. Terlebih lagi, AY terus mengerang kesakitan. Dia kemudian bertanya penyebab dari rasa sakit itu. Namun, AY terus menutupinya. “Awalnya tidak ngaku terus. Pas mau dimandiin, saya kaget melihat di bagian itunya anak saya kok sampai keluar nanah. Saya khawatir, saya tanya terus, agar jujur. Baru setelah itu anak saya  mengakui dan menceritakan kalau luka itu disebabkan karena perbuatan RP,” tuturnya. Karena geram, SK kemudian melaporkan kejadian tersebut ke aparat desa dan juga melaporkan ke unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Polresta Cirebon. Setelah kejadian itu, pelaku yang sudah diamamankan Polresta Cirebon untuk dilakukan pemeriksaan lebih lanjut. Sayangnya, pelaku dibebaskan kembali dengan alasan pandemi Covid-19.

“Tersangka ini modusnya bujuk rayu mencari bunga. Setelah di lokasi, rekan korban, meninggalkan tersangka dan korban. Saat itu tersangka mencabuli korban,” kata Syahduddi.

AR tak berkutik saat diringkus polisi. Selain menangkap tersangka, petugas juga mengamankan barang bukti berupa pakaian korban dan hasil visum. “Tersangka dijerat UU Perlindungan Anak. Ancaman pidana minimal lima tahun, maksimal 15 tahun,” ujar Syahduddi.

Pria asal Kabupaten Cirebon, Jawa Barat, tega mencabuli anak yatim di bawah umur. Aksi bejat pria berinisial R dilakukan di kediamannya.

Kasat Reskrim Polresta Cirebon AKP Anton menyebutkan korban merupakan anak yatim. Kasus pencabulan terhadap anak yatim itu dilakukan pada 19 Mei lalu.

“Ya korban yatim, tidak memiliki ayah. Kejadian tanggal 19 Mei. Laporannya tanggal 22 Mei,” kata Anton di ruangannya, Kamis (4/6/2020).

Lebih lanjut, Anton mengatakan pelaku sempat diamankan warga dan petugas ke Mapolresta Cirebon. Petugas dan warga berusaha menyelamatkan pelaku dari amukan massa. Namun, saat itu kasus yang menjerat pelaku masih dalam proses penyelidikan. Sehingga, pihak kepolisian tak berwenang untuk menangkap pelaku.

“Dibawa ke sini karena kepentingan keamanan. Pelaku hendak dimassa. Waktu itu, kami masih memeriksa dan melengkapi alat bukti,” kata Anton.

Lebih lanjut, Anton mengatakan pada tanggal 27 Mei, kasus tersebut mulai ditangani Unit PPA. Petugas langsung bergerak memvisum korban dan memeriksa sejumlah saksi, termasuk korban.

“Penyidik sudah melengkapi alat bukti. Dan, kemarin sore sudah ditetapkan sebagai tersangka. Saat ini sedang proses pengungkapan,” kata Anton.


SK sangat prihatin dengan kondisi anaknya yang saat ini masih mengalami luka di bagian kewanitaannya. Yang lebih miris lagi, luka tersebut tidak diobati lantaran tidak ada uang untuk menebus obatnya. “Sudah divisum, sampai sekarang juga lukanya masih mengeluarkan nanah,” imbuhnya.


Pelaku Sempat Reaktif Rapid Test

Anton menjelaskan tentang alasan lamanya proses penetapan tersangka. Pihaknya perlu menunggu hasil visum dan memeriksa sejumlah saksi. Selain itu, selama pandemi Corona atau COVID-19, Polresta Cirebon menerapkan peraturan anyar sesuai protokol kesehatan pencegahan penyebaran COVID-19.

Setiap orang luar yang masuk ke Mapolresta Cirebon, terutama yang menjalani pemeriksaan harus menjalani rapid test. Anton mengatakan pelaku pencabulan terhadap anak yatim sempat menjalani rapid test. Hasilnya, pelaku reaktif. Saat itu, pelaku belum ditetapkan sebagai tersangka. Petugas pun mengisolasi pelaku secara mandiri.

“Kita lakukan sesuai SOP. Saat pelaku tiba di polresta, kita rapid test pelaku. Hasilnya reaktif. Kemudian kita serahkan ke tim COVID-19 untuk menjalani swab. Sudah diswab, hasilnya negatif,” kata Anton.

Anton menceritakan tentang kronologis pencabulan yang dilakukan pria durjana itu terjadi pada 19 Mei di area persawahan Kecamatan Ciwaringin, Kabupaten Cirebon. Pelaku mengajak korban ke kediamannya menggunakan motor.

“Pulang dari rumah pelaku, orang tua korban curiga. Korban mengeluhkan sakit,” ujar Anton. dtc

”The ”The ”The ”The

Tinggalkan Balasan