BACA : Fakta Baru Kasus Pemerkosaan hingga Tewas, Korban Tak Minta Uang & Pil Excimer

Tanggerang Selatan, Kaltimampunku.com– Tragis. Seorang gadis di bawah umur OR (16) meninggal dunia setelah digilir 8 pria bejat. OR tinggal di Kampung Periang Pondok Jagung, Serpong Utara. Berawal berkenalan melalui facebook, lantas pacaran. Pacarnya membawa ke rumah temannya, lalu mengajak bersetubuh. Di rumah tersebut selain pacarnya ada 6 orang lelaki dewasa lainnya. Katanya, korban mau digilir asal dibayar Rp 100 ribu. Gadis itu sempat diberi 3 pil kuning eksimer sebelum digilir sekelompok pemuda bejat yang berasal dari Desa Cihuni, Pagedangan, Kabupaten Tangerang itu.

Ketua RT 03, RW 01, Kampung Periang, Pondok Jagung, Serpong Utara, Kimin (52) menceritakan OR semasa hidupnya. OR adalah gadis yang baik.

Kimin mengatakan bahwa sosok gadis muda itu terlihat seperti wanita yang sederhana pada tiap harinya.

Ia yang telah mengenal korban sejak masih balita itu mengaku bila dirinya tak habis pikir apa yang dialami oleh sang gadis muda itu.

“Selama hidup orangnya baik, ramah, sopan, rajin kalau kerja” kata Kimin dilansir dari Wartakotalive.com saat ditemui di kediamannya, Rabu (17/6/2020).

“Justru kita enggak habis pikir kok bisa seks-seks begitu, soalnya anaknya enggak genit, rajin. Di sini dia sering datang kalau lagi ada kerjaan dia mau ngegosok, nyuci rajin dah di rumah saya buat nambahin jajan sendiri,” sambungnya.

Kimin menjelaskan, pengakuan itu terkuak kala OR sudah terlihat seperti orang yang linglung di lingkungannya.

Warga setempat yang telah mengenal OR dan keluarganya itu turut menanyakan kondisi OR kala berada di lingkungan.

“Pertama enggak tahu saya, ketahuannya sejak bulan puasa kemarin (sehabis peristiwa rudapaksa yang dialami korban),” jelas Kimin.

Usai sepekan berlalu, ia bersama warga setempat mendapat kabar kondisi OR yang memburuk dari sang ayah yang sudah tak lagi tinggal serumah dengannya.

Kimin bersama beberapa tokoh warga setempat pun langsung menuju kediaman OR yang tinggal bersama neneknya di sebuah kontrakan kecil berukuran sekitar 6 x 5 meter.

Informasi pun terungkap kala teman sebayanya dan pengakuan dari sang korban yang tertatih dalam mengucapkannya.

Ia bersama beberapa perwakilan warga setempat pun turut andil mencari para pelaku yang tega berbuat bejat kepada OR.

Menurutnya kala itu warga memutuskan untuk mencari para pemuda pelaku rudapaksa ke Desa Cihuni berkat informasi yang diberikan dari teman dan korban.

Alhasil, ia bersama warga dapat menjalin komunikasi dengan Ketua RT, RW dan tokoh warga setempat.

“Kita datangin ada sekitar 50 warga, lalu ketemu dengan Ketua RT, RW dan lainnya disana terus terjadilah komunikasi,” ujarnya.

Keputusan pun diambil mengingat kondisi OR yang semakin memburuk disertai perilaku yang mulai tidak normal.

Kata Kimin, latar belakang OR yang hanya tinggal bersama sang nenek tak sanggup untuk membawanya ke rumah sakit untuk mendapati perawatan akibat sakit yang dideritanya itu.

Alih-alih dapat bebas dari perbuatan bejatnya, para pelaku mengirim dua perwakilan ke kediaman OR untuk membuat kesepakatan secara kekeluargaan.

“Enggak ada yang datang, cuman perwakilan dari keluarganya saja, berdua, pria sama ibu-ibu. Mereka datang berjanji untuk menyembuhkan korban dan membiayai pengobatannya,” jelasnya.

Pihak keluarga pun lantas memutuskan melarikan OR ke rumah sakit khusus ketergantungan yang bertempat di kawasan Serpong, Tangsel.

Nahas, usai menjalani perawatan selama dua pekan lebih kondisi OR tak juga membaik hingga pihak keluarga memutuskan untuk mencari rumah sakit lain.

“Kita cari yang terbaik ya bawa ke rumah sakit. Di rumah sakit dirawat sampai 15 hari. 15 hari keadaannya enggak membaik malah memburuk dibawa pulang,” jelas Kimin.

Setibanya di rumah, keluarga bersama warga kembali memberikan perawatan di rumah sembari mencari rumah sakit baru untu perawatan OR.

Nahas, kondisi OR semakin memburuk kala akan dilarikan kembali ke rumah sakit yang bakal menjadin rujukannya.

“Kondisinya sudah alami stroke di bagian tubuh sebelah kiri sudah enggak bisa aktifitas tidur saja di tempatnya,” kata Kimin.

“Nah malam Jumat, pas niat mau dibawa lagi ke rumah sakit rencananya jam 2 siang, sudah enggak ada. Pas ciri-nya itu sudah kelihatan di hari Kamis itu enggak mau diselimutin, di pegang sama warga yang ngerti ini sudah mau meninggal karena kakinya sudah dingin, bener saja sekitar jam 1 siang meninggal,” sambungnya.

Kimin pun mengaku tak ada pihak keluarga yang membuat laporan ke pihak kepolisian setempat.

Namun, kejanggalan meninggalnya OR justru mengundang banyak tanya warga hingga beujung pada pemberitaan di media nasional.

Lantas, saat beberapa hari kepergian OR pihak Polsek Pagedangan mendatangi kediaman keluarga dan memintai keterangan sebagai bukti penyelidikan.

“Kejadian beberapa hari, sudah pengajian langsung di panggil ke Polsek. Dari pihak sini RT, RW dari orang tua langsung di panggil ke Polsek kasih tahu bahwa gambaran ini diperkosa tujuh orang. Itu Kapolsek Pagedangan yang kasih tahu,” tandasnya.

Fakta-fakta Kasus Gadis 16 Tahun Meninggal, Diperkosa 8 Pria hingga Minum Pil Kuning Eksimer

 Fakta-fakta kasus OR (16) gadis asal Serpong Utara, Tangerang Selatan (Tangsel) tewas terungkap.

Gadis 16 tahun itu diperkosa tujuh pria di Cihuni, Pagedangan, Kabupaten Tangerang.

Persitiwa itu terjadi pada Sabtu (18/4/2020), OR tewas pada Kamis (11/6/2020) setelah mengalami sakit.

Gadis berinisial OR itu digilir dalam kondisi tak berdaya di rumah salah seorang pelaku.

Peristiwa ini terjadi di Desa Cihuni, Pagedangan, Kabupaten Tangerang.

Dari tujuh orang pelaku pemerkosaan, 4 diantaranya telah berhasil diamankan oleh polisi yakni FF, SU, DE dan AN.

Sementara itu, sisanya yakni RI, DR dan DK masih dalam pencarian petugas.

Belakangan diketahui jika korban OR diduga bersedia digilir oleh ke-tujuh orang pemuda tersebut.

Namun, saat itu korban memberikan persyaratan jika ingin berhubungan intim dengannya.

Kapolsek Pagedangan AKP Efri menjelaskan, para tersangka rata-rata semuanya telah berusia dewasa atau di atas 18 tahun.

“Tersangka sudah di atas 18 tahun, ada yang 24 tahun, 27 tahun. Sudah dewasa. Kecuali korban usia 15 tahun mau 16 tahun,” kata Efri kepada Wartawan, Senin (15/6/2020).

AKP Efri menerangkan, peristiwa itu bermula ketika korban berkenalan dengan salah satu tersangka bernama Fikri Fadhilah alias FF lewat media sosial.

Dari perkenalan tersebut, hubungan Fikri dan korban berlanjut hingga mereka berdua berpacaran.

Setelah mereka resmi berpacaran, Fikri pun membujuk rayu korban yang masih berusia di bawah umur untuk mau berhubungan badan dengan dirinya.

“Pada hari Sabtu, 18 April 2020 sekitar jam 01.00 WIB, tersangka 1 menjemput korban dan membawa ke rumah tersangka Sudirman di Desa Cihuni, Pagedangan, Kabupaten Tangerang,” kata AKP Efri.

Menurutnya, di lokasi tersebut, sudah ada tersangka lain yaitu Sudirman si pemilik rumah, Denis, Anjayeni, Rian, Dori, dan Diki.

Kemudian, gadis remaja tersebut meminta pil eksimer kepada pelaku.

Tak hanya itu, korban juga meminta uang bayaran sebesar Rp 100 ribu kepada para lelaki yang ingin menyetubuhinya.

“Kemudian, korban meminta pil kuning (eksimer) sebelum melakukan persetubuhan dan juga meminta uang Rp 100 ribu per orang untuk bisa menyetubuhinya,” ucap Efri mengutip Tribunnews.com.

Sudirman lantas pergi mencari pil eksimer itu dan kembali setelah 20 menit kemudian.

Ia membeli tiga butir eksimer dalam waktu tersebut.

Lalu, tersangka lainnya bernama Fikri Fadhilah langsung mencekoki korban dengan tiga butir eksimer itu sekaligus.

Mengkonsumsi tiga butir pil sekaligus membuat korban kehilangan kesadaran.

Momen itulah yang dimanfaatkan para tersangka menyetubuhi korban secara bergiliran.

Setelah menyetubuhi korban, masing-masing dari mereka memberikan uang Rp 100 ribu.

“Akibat kejadian tersebut, korban sakit dan pada tanggal 26 Mei 2020 dibawa ke Rumah Sakit khusus jiwa Darma Graha Serpong,” ujar Efri.

Tapi pada tanggal 9 Juni 2020 lalu, keluarga mengambil paksa korban dari rumah sakit.

Korban sempat sakit

Kapolsek Pagedangan, AKP Efri mengatakan, usai ketujuh pria melakukan aksi bejatnya, OR sakit dan tubuhnya lemas.

Bahkan Efri menyebut OR sempat pincang dan menjadi cadel.

“Yang jelas pasca kejadian itu korban mengalami sakit seperti lemas, cadel kemudian jalannya pincang-pincang. tapi kalau pastinya itu harus dibuktikan oleh ahli,” katanya.

Namun Efri belum bisa memastikan bahwa excimer ataupun pencabulan tersebut sebagai penyebab tewasnya OR.

Terlebih jarak waktu peristiwa dengan meninggalnya OR cukup lama.

“Ya saya belum bisa memastikan. itu harus ada ahli yang bisa memeriksa,” ujarnya.

AKP Efri mengungkapkan motif para tersangka yang telah menggilir gadis berusia 16 tahun dalam keadaan mabuk.

Kepada kepolisian, tersangka mengaku tidak ada motif khusus sewaktu memperkosa korbannya.

“Motifnya ingin melakukan hubungan aja bersama-sama temennya,” kata Efri kepada wartawan, Senin (15/6/2020).

Korban Teler usai telan pil eksimer

Korban OR langsung teler setelah menelan 3 butir pil eksimer yang diberikan oleh temannya.

Saat korban dalam kondisi setengah sadar, para pelaku langsung menggilir korban secara bergantian.

Efri mengatakan, saat ini pihaknya tengah menelusuri asal pil excimer tersebut.

“Sedang kita dalami soal didapatnya pil excimer itu, yang jelas beli. Di mana belinya nanti kita kembangkan sampai ke situ. Kita sedang dalami terkait hal teknis lagi soal penyidikan,” ujar Efri melalui sambungan telepon, Senin (15/6/2020) mengutip Tribun Jakarta

Saat ini, keterangan soal pil excimer, termasuk pernyataan tentang korban yang memasang tarif sebelum disetubuhi, didapat dari pelaku yang sudah tertangkap.

“Itu pengakuan para pelaku begitu memberikan meminta pil dan uang,” uajrnya.

Efri juga terus mengejar ketiga pelaku yang masih buron, RI, DR dan DK.

“Tiga lainnya masih DPO (Daftar Pencarian Orang),” ujarnya.

BACA : Fakta Baru Kasus Pemerkosaan hingga Tewas, Korban Tak Minta Uang & Pil Excimer

Iyan Kandangan

BACA JUGA Kenal di Facebook, Ibu Rumah Tangga di Manggarai Dicabuli, Foto Bugilnya Kemudian Disebarkan

”The ”The ”The ”The ”The ”The

Tinggalkan Balasan