Mahasiswa di Surabaya Bunuh Wanita Pijat Plus Plus, Mayatnya Dimasukkan dalam Kardus

Yusron mengaku sudah membayar korban berinisial M (33), warga Jalan Ciliwung Surabaya Rp 900 ribu agar memberikan layanan pijat. Lalu, ada tawaran pijat plus-plus dengan tambahan Rp 300 ribu. Pelaku tidak mau membayar.

Mahasiswa di Surabaya jurusan Teknik Sipil pembunuh wanita terapis pijat panggilan mengaku marah setelah bayar Rp 900 ribu pakai uang SPP kuliah, cuma digituin saja. Foto Firman Rachmanuddin/Surya/Luhur Pambudi/tribunnews

KABAR luar daerah tentang pembunuhan seorang wanita terapis pijat plus-plus di Surabaya akhirnya terungkap, tersangkanya ternyata seorang mahasiswa.

Mayat dalam kardus yang ditemukan di Lidah Kulon, Kota Surabaya, Jawa Timur, Rabu (17/6/2020), tersebut adalah seorang wanita terapis yang belakangan diketahui bernama Oktavia Widiawati (32).

Polisi mengungkap kronologi pembunuhan dan fakta-fakta sang mahasiswa nekat melakukan tindakan brutal terhadap wanita yang dipanggilnya itu.

Ternyata Yusron Firlangga (20) si mahasiswa Teknik Sipil sebuah universitas di Surabaya itu kalap karena korban meminta tambahan uang.

Padahal, pelaku sudah menghabiskan uang biaya kuliah sebesar Rp 900 ribu untuk menggunakan jasa terapis pijat tersebut.

Seperti diberitakan, Anggota Polrestabes Surabaya mengungkap identitas pembunuh wanita terapis panggilan pijat plus-plus di Lidah Kulon, Kota Surabaya, Jawa Timur.

Sosok mayat wanita dalam kardus dengan kondisi bersimbah darah dan leher penuh sayatan ditemukan warga pada Rabu (17/6/2020).

Pembunuh wanita terapis pijat plus plus dan mayat korban dimasukkan ke dalam kardus itu masih berstatus sebagai mahasiswa di sebuah universitas di Surabaya jurusan teknik sipil.

Yusron mengaku sudah membayar korban berinisial M (33), warga Jalan Ciliwung Surabaya Rp 900 ribu agar memberikan layanan pijat.

Lalu, ada tawaran pijat plus-plus dengan tambahan Rp 300 ribu.

Pelaku tidak mau membayar.

Polrestabes Surabaya berkoordinasi dengan Polres Mojokerto mengamankan pelaku di rumah bibinya yang ada di wilayah Ngoro, Mojokerto.

Korban teriak Pelaku panik

Yusron mengaku nekat menghabisi nyawa M lantaran panik saat korban berteriak minta tolong.

Percekcokan terjadi setelah Yusron merasa dibohongi oleh korban yang merupakan terapis pijat.

“Saya bayar pijatnya Rp 900 ribu. Kemudian dia (korban) menawarkan layanan plus-plus.

Setelah itu saya gituin saja (tidak bersetubuh) tapi minta tambahan uang 300 ribu, saya tidak mau,” akunya.

Karena terjadi perselisihan itu, korban kemudian dibekap tersangka.

Alih-alih diam, korban malah berteriak hebat dan membuat tersangka panik.

“Saya panik. Ambil pisau lipat langsung menusuk leher korban itu.

Saya takut kegrebek warga kalau dia (korban) teriak terus,” kata Yusron.

Kenalan di Twitter

Dari penyelidikan kepolsian, Yusron berkenalan dengan korban melalui media sosial Twitter @MassagePandawa.

Terjadilah kesepakatan untuk bertemu di rumah kontrakan yang ditinggali mahasiswa itu.

Korban datang, Selasa (16/6/2020) sekitar pukul 18.00 WIB.

Setelah itu, korban memberikan layanan jasa pijat selama 45 menit.

Di sela-sela pijat, korban menawarkan layanan jasa plus-plus kepada tersangka.

“Saat itu saya hanya (gituin) saja. Belum sempat bersetubuh.

Dia (korban) minta uang tambahan. Saya akhirnya gak mau. Tapi korban ngeyel ikut marah,” tambahnya.

Berencana bakar mayat dalam kardus

Alhasil, korban dihabisi pelaku sekitar pukul 23.00 WIB setelah sempat terjadi cekcok.

Empat luka tusukan pisau lipat tersangka bersarang di leher bawah telinga.

Setelah memastikan korban tak bernyawa, Yusron kemudian memasukkan jasad M ke dalam kardus dan berencana membakarnya.

Wakapolrestabes Surabaya, AKBP Hartoyo didampingi Kasat Reskrim, AKBP Sudamiran, Wakasat Reskrim,Kompol Ardian Satrio Utomo dan Kanit Jatanras, Iptu Agung Kurnia Putra mengatakan tersangka sempat membakar korban menggunakan sebuah kompor portable.

“Rencananya akan dibakar sampai berabu. Namun karena takut apinya membakar rumah, tersangka kemudian mematikan kompor portable yang digunakan membakar korban. Jadi kaki kanannya yang terkena luka bakar,” kata Hartoyo, Rabu (17/6/2020).

Melarikan diri ke Ngoro Mojokerto

Setelah peristiwa tersebut, tersangka kemudian melarikan diri ke rumah bibinya di Ngoro Mojokerto.

Sebelumnya,tersangka menelpon ibu korban dan menceritakan peristiwa tersebut.

Hasil pemeriksaan saksi-saksi, tersangka dikenal sebagai seorang anak yang tempramental. Yusron diakui kerap melawan orang tuanya dan tak bisa diatur.

Hal itu diamini tersangka di hadapan polisi.

Yusron juga tak sungkan mengakui uang yang digunakan membayar jasa korban merupakan uang SPP kuliah yang tak dibayarkan.

“Tersangka ini kami amankan tanpa perlawanan. Keluarga tersangka juga kooperatif sehingga kami dapat mengungkap kasus ini lebih cepat,” tandas Hartoyo. 

Kekasih Menangis Histeris

 Kekasih Oktavia Widiyawati, wanita terapis pijat plus plus, ditemukan di sebuah kamar di dalam kardus lemari es di rumah kontrakan, Steni (30) menangis histeris setelah tahu kekasihnya tewas dibunuh secara sadis.

Kekasihnya yang berprofesi sebagai terapis dihabisi oleh seorang mahasiswa dalam sebuah traksaksi pijat plus-plus di Jalan Lidah Kulon 2B, Kecamatan Lakarsantri, Surabaya.

Pelakunya adalah Yusron Virlangga (20).

Steni (30) menangis sejadi-jadinya setelah mendengar kabar jika pacarnya, Oktavia Widiyawati (32) dibunuh di sebuah rumah di Jalan Lidah Kulon, RT 03 RW 02 Lidah Kulon, Lakarsantri, Surabaya, Rabu (17/6/2020).

Ia terihat syok dan bersimpuh di paha, Suhartiningsih (53), ibu korban. Steni juga menangis sejadi-jadinya di rumah duka Jalan Ciliwung RT 003/RW 05, Darmo, Wonokromo, Surabaya.

Pemandangan yang mengiris hati itu disaksikan Hariati sahabat ibunda korban yang rumahnya bertetangga.

Saking teriris-iris hatinya. Hariati tak kuasa menahan sedih. Ia turut menitikkan air mata.

Dia paham, betapa tak kuasanya seorang ibu mendengar kabar anaknya tewas, apalagi dengan cara-cara yang tragis.

“Steni (30) nama pacarnya (korban). Ya nangis di sini mas, saya nggak kuat lihatnya,” ujarnya saat ditemui awak media di kediaman ibunda korban, Rabu (17/6/2020).

Hariati mengungkapkan, pacar korban datang sekira pukul 11.30 WIB sengaja ditelepon oleh sahabatnya, yakni Suhartiningsih.

Ibunda korban yang saat itu mendapat kabar langsung dari sejumlah anggota Polrestabes Surabaya, langsung menelepon calon menantunya itu.

“Pacarnya datang siang jam 11.30 WIB. Nangis di sini pacarnya terus memeluk paha ibunya, nangisnya lama,” ujarnya.

Ia tidak mengetahui pasti berapa lama anak sahabatnya itu; Oktavia Widiyawati, menjalin hubungan spesial dengan Steni.

Melihat ekspresi hancur dari Steni. Ia meyakini, Steni begitu sayang pada Oktavia yang akrab disapa Monic.

Keluarga Oktavia Widiyawati (32), terapis pijat wanita yang dibunuh di dalam rumah di Lakarsantri, Surabaya, merasa terpukul dengan insiden tersebut.

Adik korban, Mendi (27) berkali-kali menyeka air mata. Mendi tak kuasa menahan tangis. Suaranya terdengar lirih, nyaris tak terdengar.

Bahkan saat ditanyai mengenai kenangan terakhir bersama sang kakak. Tangisan Mendi sontak pecah.

Mendi mengatakan, kakak pertamanya itu sudah cukup lama tidak tinggal serumah dengan ibunya.

“Enggak tahu kosnya di mana. Masih di kawasan Surabaya,” ujarnya saat ditemui awak media di kediaman ibunda korban di Jalan Ciliwung, Wonokromo, Surabaya, Rabu (17/6/2020) sore.

Sosok korban di mata Mendi terbilang sebagai wanita yang pendiam.
Tak semua obrolan gampang diungkap kakaknya.

Namun sebagai figur kakak, korban adalah sosok yang peduli dan pengertian pada keluarga dan adik-adiknya.

“Tapi kalau mau interaksi ya main ke rumah sini aja, terus lewat telpon aja. Orangnya emang tertutup, enggak suka cerita-cerita, orangnya suka mandiri,” ujarnya.

Keluarga tak tahu profesinya

Disinggung mengenai profesi atau pekerjaan kakaknya. Mendi beberapa kali menggelengkan kepala.

Pertanda bahwa dirinya tidak pernah tahu pekerjaan kakaknya selama ini.

“Enggak tahu aku,” jelasnya.

Seingat Mendi, terakhir kali kakaknya itu berjumpa keluarga, pada Jumat (12/6/2020) pekan lalu.

Kakaknya itu datang ke rumah. Melepas kangen dengan sang ibundanya, Suhartiningsih (53), yang tergolek lemas karena sakit demam, dan memberikan sedikit uang kepada ibundanya.

“Kalau saya terakhir ketemu kakak, Kamis (11/6/2020), saat dia pesan makanan, gak ada yang aneh. Kalau ketemu saya hari kamis, Cash on Delivery (COD) makanan beku di HR Muhammad,” pungkasnya.

Jenazah Oktavia Widiyawati diketahui pada Rabu pagi sekitar pukul 09.00 WIB.

Keberadaan jenazah korban di rumah kontrakan di Jalan Lidah Kulon 2B, Kecamatan Lakarsantri, Subaraya, Jawa Timur awalnya diketahui oleh warga.

Warga kemudian melapor ke polisi.

Kasareskirm Polrestabes Surabaya, AKBP Sudamiran mengatakan setelah mendapat laporan warga, polisi langsung datang ke lokasi.

Saat itu, petugas menemukan jenazah Oktavia Widiyawati ditemukan di sebuah kamar di dalam kardus lemar es.

“Ya, tadi dapat informasi pagi tadi kalau ada dugaan korban pembunuhan. Korban meninggal di rumah pelaku di Lidah Kulon, Kecamatan Lakarsantri,” kata Sudamiran saat dihubungi, Rabu.

Diduga korban dibunuh pada Selasa (16/6/2020) pukul 20.00 WIB.

“Kejadian ini diduga terjadi Selasa malam sekitar pukul 20.00 WIB. Namun, baru diketahui pagi ini pukul 10.00 WIB,” kata Sudamiran.

Ada Banyak Luka Tusukan Senjata Tajam

Hasil pemeriksaan awal oleh polisi, ditemukan banyak luka tusukan senjata tajam dan sayatan seperti di leher dan tangan.

Ditemukan juga luka bakar di kaki kanan korban.

Hal itu juga didukung oleh kesaksian warga.

Dikutip dari Surya, salah seorang saksi mata yang merupakan tetangga korban, Reni Agustiawan mengatakan mayat tersebut ditemukan bersimbah darah.

Tubuh korban diketahui ditemukan di dalam kardus wadah kulkas.

“Di dalam kamar itu. Darahnya banyak, masih pakai pakaian, belum dievakuasi,” ujarnya pada awak media di lokasi, Rabu (17/6/2020).

Reni juga mengungkapkan ditemukan sebuah luka seperti bekas tusukan senjata tajam di leher korban.

“Mungkin itu penyebab, darahnya banyak keluar, di bagian leher, kena pisau,” ungkapnya.

Bapak empat anak itu menambahkan, para tetangga atau warga sekitar baru mengetahui temuan mayat itu, sekitar pukul 09.00 WIB.

Kasat Reskrim Polrestabes Surabaya, AKBP Sudamiran menduga motif pembunuhan perempuan yang bekerja sebagai tukang pijat panggilan itu karena tawaran layanan jasa plus-plus yang tidak sesuai kesepakatan.

“Korban tukang pijat panggilan ( terapis panggilan).”

“Ketika mau melayani plus-plus tidak cocok tarif sehingga terjadi cekcok berujung pembunuhan tersebut,” kata Sudamiran, Rabu (17/6/2020).

Pelaku Ditangkap, Anak Pemilik Kontrakan

Polisi akhirnya berhasil menangkap pelaku pembunuhan Oktavia Widiyawati.

Pelaku adalah Y (19), yang merupakan anak pemilik rumah, WD.

Tersangka Y ditangkap di kawasan Ngoro, Mojokerto, sekitar pukul 14.00 WIB dan dibawa ke Polreatabes Surabaya.

“Pelaku sudah tertangkap, sekarang sudah di PolrestabesSurabaya,” ujar petugas kepada Surya.co.id.

Ketika pembunuhan berlangsung, Y menyayatkan pisau cutter ke leher korban sebanyak empat kali.

Dalam pertengkaran itu, Oktavia Widiyawati sempat melawan hingga jarinya terkena sayatan.

“Y juga menyundut tangan kiri tersangka dengan bara. Seperti sundutan rokok,” kata petugas.

Y kabur dari rumah sejak pagi atau usai subuh.

Y sebelum meninggalkan rumah, sempat pamit dan memberi tahu ibunya, WD jika baru saja menghabisi nyawa korban.

Mayat Oktavia Widiyawati dimasukkan dalam kardus kulkas.

Akhirnya, WD melaporkan ke polisi dan meluncur ke lokasi.

Diduga, korban dihabisi pelaku pada malam hari atau tengah malam.

Darah yang ada di tubuh korban cukup banyak dan belum sepenuhnya mengering.


Mayat dalam Kardus, Sebelumnya Juga Sempat Menggembarkan Medan

BIADAB! 6 Fakta Pembunuh Rika Karina, Mayat di dalam Kardus di Medan, Ini Motifnya

Pelaku pembunuhan dan simpan mayat dalam kardus 

 Masyarakat Indonesia sempat heboh dengan kematian seorang gadis cantik berusia 21 tahun asal Medan, Rika Karina. dibakar Kasus pembunuhan sadis itu menggemparkan warga. Mayat Rika ditemukan terbungkus plastik dan dilipat dalam kardus.

Kardus tersebut ditemukan warga terikat di atas jok motor Scoopy di jalan Karya Rakyat, Gang Melati I, Medan Barat.

Kardus ditemukan sekitar pukul 02.00 WIB dini hari pada Rabu (6/6/2018).

Kondisi mayat Rika sungguh memilukan.

Wanita yang sehari-harinya bekerja di konter kosmetik Plaza Millenium Medan ini mengenakan tank top hitam serta celana dalam merah.

Pada bagian leher dan tangan, terdapat bekas tusukan.

Tak lama, pelaku pembunuhan Rika ditangkap.

Pelaku bernama Hendri alias Ahen (31).

Berikut fakta-fakta pelaku sadis tersebut :

1. Tinggal di Medan

 Ahen berusia 31 tahun.Ia tinggal di Jalan Platina, Perumahan Ivory, Kecamatan Medan Deli, Kelurahan Titi Papan.

2. Cekcok dengan korban

Pelaku diketahui bertemu dengan korban di rumahnya sendiri yakni di Jalan Platina.

Saat itu, Rika datang ke rumah Ahen untuk membicarakan soal perjanjian jual beli kosmetik.

Namun terjadi cekcok karena barang pesanannya tidak kunjung tiba.

Sementara itu, Rika katanya belum memberikan barang kosmetik itu kepada Ahen, padahal Ahen sudah membayar.

3. Menganiaya korban

Mayat korban, Rika Karina di dalam kardus

 Usai cekcok, Ahen menganiaya Rika.

Pertama, ia membenturkan kepala Rika ke dinding lalu menikamnya dengan pisau.

Belum cukup, Ahen juga menyayat pergelangan tangan Rika.

4. Membungkus korban dengan lakban dan kardus

Ahen lalu memasukkan Rika yang sudah tidak bernyawa ke dalam koper.

Ia segera membungkus mayat dan membawa sepeda motor ke TKP tempat ditemukan mayat.

5. Ditembak karena berusaha lari

Ketahuan karena informasi tetangga dan rekaman CCTV di lapangan, Ahen akhirnya berusaha melawan saat digrebek.

Polisi akhirnya melumpuhkan kaki kanan Ahen dengan timah panas.

6. Barang bukti

Sejumlah barang bukti yang berhasil ditemukan adalah sebilah pisau, satu celana jeans pendek dan satu jaket hitam.

Polisi juga menyita 2 unit HP dan coolpad.

Tubuh koran terbungkus dalam kardus rapi, ditemukan di Jalan Karya Rakyat Gang Melati 1, Kelurahan Sei Agul, Kecamatan Medan Barat.

Berikut sejumlah fakta yang sudah terungkap dan komentar kepolisian atas kasus pembunuhan wanita cantik ini:

1. Korban ‘anak yang tertutup’ dan jarang di rumah

Ayah korban, Muhammad Sahuri, mengakui anaknya sosok yang tertutup dan jarang datang ke rumah.

“Memang dia agak tertutup orangnya. Terakhir kami jumpa Jumat (27/4/2018). Kemarin itu, saya ngantar dia ke Amplas untuk berangkat kerja. Setelah itu, dia naik angkot ke tempat kerjanya. Setelah itu, enggak pernah jumpa lagi, komunikasi pun jarang,” katanya saat ditemui di kediamannya di Jalan Tangguk Bongkar, Gang Ikhlas, Mandala, Medan Denai, Kota Medan.

Ibunda Rika, Sarinah mengungkapkan anaknya tersebut adalah sosok yang baik.

”Walaupun kemarin bulan April, dia bilang sama saya mau dilamar pacarnya orang Padang. Tapi, kubilang, ‘ya sudah baik-baik ya’ itu kubilang sama dia,” ucapnya dengan mengeluarkan air mata.

2. Gak terbuka soal Pacar

Wanita yang berjilbab warna abu-abu tersebut menyebutkan bahwa anaknya tersebut akan pulang ke rumah saat malam takbiran nanti.

“Setelah itu, katanya sama ku, ‘Mak, aku pulang nanti, lebaran pada malam takbiran’. Ya sudah, ‘Rika sudah makan belum’ gitu kubilang sama dia,” ucapnya.

Setelah berkomunikasi pada bulan April kemarin, Sarinah dan Sahuri tidak pernah lagi komunikasi dengan anaknya tersebut.

“Setelah itulah, enggak ada komunikasi lagi. Memang anakku ini, agak tertutup, apalagi soal hubungannya sama orang lain. Agak pendiam orangnya. Dia anak yang baik. Walaupun kami jarang komunikasi akhir-akhir ini. Apalagi masalah pacar agak tertutup,”

Sembari menangis, Sarinah pun tidak memiliki pertanda bahwa anaknya tersebut sudah meninggal dengan kondisi mengenaskan.

3. Warga merinding saat kardus dibuka

Penemuan kardus berisi membuat warga yang melihat merinding dan terkejut. Darwis, penjual martabak ketiga itu melihat kardus popok bayi teronggok begitu saja di jalan tanpa pemilik, di Jalan Karya Medan, Rabu (6/6/2018) dini hari.

Kardus di atas sepeda motor Honda Scoopy BK 5875 ABM dalam kondisi mesin mati dan lampu tetap menyala tanpa pengendara.

4. Polisi akan lakukan Autopsi

Kabid Humas Polda Sumut AKBP Tatan Dirsan Atmaja mengatakan setelah sebagian kardus terbuka, polisi melihat adanya bentuk tangan dan kaki dari manusia yang seperti terlipat.

Saat bungkusan tas dibuka, kondisi mayat wanita tanpa identitas, mengenakan tank top berwarna hitam dan celana dalam berwarna merah maroon.

“Polisi langsung membawa mayat ke RS Bhayangkara Medan untuk dilakukan autopsi,” kata Tatan, Rabu (6/6/2018).

“Dugaan kita sementara mayat ini korban pembunuhan. Karena di leher korban ada luka tusukan benda tajam serta di tangan kiri mengalami luka cobel seperti akibat benda tajam,” sambungnya.

5. Korban kerja di gerai kosmetik Millenium

Seorang teman korban, Indri Anggraini (21) yang sehari-harinya bekerja sebagai sales produk elektronik di Plaza Millenium mengatakan bahwa telah kenal korban selama setahun terakhir.

Ia menuturkan gerai kosmetik tempat Rika sempat buka Rabu pagi . Terus tutup lagi pada jam 10.30 WIB. Karena temannya yang jaga harus dimintai keterangan oleh pihak kepolisian.

“Korban itu pendiam kali orangnya, bisa dibilang sangat menutup diri. Soalnya asal baru datang biasanya langsung bersihkan steling Kosmetik, terus dia duduk ditempat jualan sambil dengerin musik pake headset,” kata Indri, Rabu (6/6/2018)

Ia menambahkan bahwa Rika nggak pernah aneh-aneh. Biasa dia pulang jam 22.30 setelah beresin dan menutup steling toko menggunakan kain

“Pokoknya selama aku kenal dia, jarang sekali aku lihat dia banyak ngomong. Paling dia aku lihat mau ngomong sama customer yang beli nanya harga aja,” sambungnya.

6. Polisi cek rekaman CCTV

Indri mengaku sangat terkejut waktu mendengar bahwa Rika meninggal dunia. Karena kemarin terakhir jumpa Rika, bulan 12 sebelum pindah lokasi kerja. Akhirnya pas hari ini balik kerja lagi di Millenium malah dengar kabar Rika sudah meninggal.

Lebih lanjut, Indri menjelaskan bahwa tadi pagi datang polisi setelah datang dan minta keterangan dari temen-temen korban disini, polisi juga melakukan pengecekan terhadap kamera Closed-Circuit Television (CCTV) parkiran, tapi entah mengapa rupanya CCTV-nya mati.

“Polisi itu bilang dua hari yang lalu diparkiran, korban ada kenal cowok dan minta nomor WhatsApp di kasihnya. Jadi polisi tadi mau lihat CCTV, bagaimana wajah si cowok itu, tapi rupanya CCTVnya mati,” ujar Indri.

“Yang jelas kasihan aku lihatnya, dia meninggal seperti itu. Orangnya pendiam masih anak-anak, apalagi mau lebaran bentar lagi,” pungkas Indri.

Seorang pekerja elektronik SM, mengatakan pernah menjumpai korban sekitar tiga bulan yang lalu.

“Jadi saya pernah membeli shampo NR dan berjumpa dengan korban. Saya waktu itu nanya shampo ada dua macam untuk rambut memperbaiki kerontokan lalu dia (Rika) ngasih rekomendasi shampo dan conditioner merek NR,” ujarnya saat ditemui Tribun Medan di Plaza Millenium.

Kalau sosoknya, lanjut SM, pendiam, tidak banyak cakap ke sana ke sini.

7. Rika seorang keturunan Tionghoa muslim

Rika merupakan seorang Tionghoa muslim di Medan, nama china-nya Huang Lisa. Tampak dalam beberapa fotonya mengenakan hijab dalam bekerja. Menurut informasi ayahnya seorang mualaf.

Siapa mengira gadis cantik itu sekarang sudah pergi dibunuh dengan cara yang cukup keji. Entah apa kesalahan Rika hingga berakhir dengan cara yang cukup menyedihkan. *

Iyan Kandangan/sumber foto tribuntimur/tribunnews

BACA JUGA :  

Usai Setubuhi Istri Orang hingga Hamil 5 Bulan, Seorang Pria Dibunuh, Mayatnya Dibuang ke Parit

Kejam! Pembina Pramuka di Palembang Perkosa Siswi SMP, Setelah Dibunuh Diperkosa Lagi, Lalu Ditusuk-tusuk Pakai Kayu

Janda Setengah Bugil yang Ditemukan di kebun Belakang Minimarket Akhirnya Tewas, Pelaku Berhasil Ditangkap

ABG Korban Perkosaan di Jambi Ditemukan Tewas Tanpa Busana di Kebun Karet Sarolangun

”The ”The ”The ”The

Tinggalkan Balasan