Tentang Penulis

Mengembalikan ke Penulis Sejarah Asli

ADA beberapa buku tentang sejarah Kaltim,  termasuk sejarah pergerakan atau perjuangan  melawan penjajah di Kaltim.

Di beberapa buku, yang beredar,   ada bagian-bagian yang sama, dicuplik  dan sumbernya “hanya” disebutkan di bagian Daftar Pustaka saja.  Sementara, banyak bagian-bagian alinea atau paragraf yang diambil atau disalin secara utuh (banyak) dimasukan dalam buku sejarah baru.  Bahkan hampir 99  persen tulisan disadur dari beberapa buku, lalu “diakui” sebagai asli dari tulisan sendiri. Padahal dari buku yang disadur ada yang ditulis oleh tim, yang telah berkeringat melakukan riset dan penelitian, mengumpulkan data-data lalu membuat tulisan dan menjadikannya buku.

Di sinilah nama penulis aslinya menjadi kabur, bahkan lama-lama akan hilang hilang ketika beberapa orang kembali melakukan kesalahan yang sama, dengan mengambil sumber terbaru. Bodohnya lagi,   ini dilakukan civitas akademika (mahasiswa atau dosen) untuk membuat skripsi.

Sejarah atau peristiwa yang sudah terjadi tidak akan berubah. Kecuali diubah atau dibelokkan oleh  seseorang atau beberapa orang.  Ini terjadi, karena kepentingan pribadi atau kelompok yang ingin lebih menonjol.

Bila satu atau beberapa buku, kemudian “diakui” hasil dari tulisan penulis (enggan disebut penyusun buku) yang baru , maka “arti” penulis dan penyusun akhirnya menjadi kabur.  Penulis,  ada yang hanya terlibat sedikit dari bagian cerita dari yang ditulis. Selain itu, bahkan ada juga penulis, yang bukan bagian dari pelaku sejarah sama sekali. Namun penulis ini dengan seenaknya  “menyalin” cerita atau data dari buku yang ditulis oleh penulis yang muncul beberapa puluh tahun kemudian, dari tulisan penulis sebelumnya.

Kami tidak ingin kekeliruan ini  terus berulang.

Mengenai buku sejarah, kami tetap berupaya berpatokan pada  buku sejarah yang lebih bernilai yaitu yang ditulis dan  diterbitkan pada tahun yang lebih lama.  Untuk itu kami hadir “mengembalikan” penulis asli dari sejarah itu sendiri.  Kami juga menerima “pengakuan”, bila ada penulis yang mengaku telah menuliskan atau membuat tulisan lebih lama lagi  tentang tulisan dan data-data dari tahun sebuah atau beberapa tulisan yang telah dibuat. Tapi tentu saja jangan “meninggalkan” sumber atau penulis aslinya.

Untuk penulisan sejarah yang lebih tua lagi, mengenai sejarah kota misalnya,  di zaman kolonial penjajahan, ketika orang-orang Indonesia belum ada yang  berpendidikan, kita semua mengakui, tak hanya tulisan sejarah, foto sejarah juga,  lebih rajin dilakukan oleh penulis-penulis luar negeri,  kebanyakan penulis dan fotografer dari Belanda.  Memang ada juga penulis-penulis kita,  orang Indonesia (pribumi) yang menulis (membuat tulisan asli), namun masih menggunakan peralatan tulis sangat sederhana, yaitu di daun-daun lontar.

Untuk itulah kami menghargai penulis-penulis yang pertama kali membuat tulisan-tulisan (terutama yang dibukukan).   Karena penulis atau tim penulis itu telah berkeringat tak hanya membuat tulisan tapi juga melakukan penelitian, riset dengan mengumpulkan banyak data-data awal. Begitulah*

.

ArabicEnglishIndonesianMalay
%d blogger menyukai ini: